Antologi Adulthood : Disconnected (2)

Part II

 

Well tiba saatnya, gue untuk pertama kali bertemu. Akhirnya gue merasakan kehadirannya secara langsung, yang sebelumnya gue bisa linger through his voice. Gue inget banger, sebelum ketemu, kita sempat ngalamin masalah, gue lupa masalahnya apa but in the end of the day, we made it, yey.

 

First time I saw him, I was like damn he’s fine as luxury chocolate!. Gue jadi merasa cupu gitu loh. Coba deh bayangin aja, gue yang gendut pendek terus ga suka olahraga dan makan terus, was dating with an athletic guy. Tuhan maha adil, membiarkan gue merasakan cinta dengan orang yang sangat kontradiksi dengan gue.

 

Ya namanya juga kopi darat ya, meskipun udah pacaran statusnya, tetep aja masih ada rasa kaku nya. Ya kaku as in strangers gitu. Gue benar-benar seneng bukan main disitu, gue bukan seneng karena dapet cowok yang fine asf aja, tapi gue akhirnya bisa ngerasain bagaimana disayang seperti itu.

Sayangnya, gue ga punya waktu banyak dengan dia, karena udah rada malam sih. Akhirnya kita memutuskan untuk makan malam aja. Kita saling sharing tentang keseharian masing-masing, we really had a great time eventually.

Yaudahlah akhirnya gue pulang, udahlah intinya sms an terus gombal-gombal menjijikan. We been through good times until our second date just passed.

Gak lama setelah second date itu, hubungan udah mulai gonjang ganjing tidak keruan. Pokoknya perlakukannya sudah beda, jadi jarang chat jarang telfon dan yang penting dia kayak nggak menggubris gue sama sekali. Ya intinya cuek aja gue mau ngapain gitu dia cuma “iya iya”. Gue merasa, gue ga pernah ngecewain dia, okelah bikin sebel pernah tapi gue ga bikin orang yang bener-bener semurka itu. I really had no balls doing that.

Hubungan itu sudah meredup, gue sudah ga merasakan sparks sparks apapun itu. Udah pusing mikirin ini, ditambah lagi saat itu momennya lagi mau ujian masuk PTN. Jadi kita memutuskan untuk focus belajar. Kita jadi jarang ngomong, sekalinya ngomong jatohnya selalu emosi. Gue menanggap dia ga pernah ngertiin gue, dan dia menanggap gue egois yang ga pernah ngertiin dia. Intinya sudah deadlock banget.

Selang beberapa hari kemudian, udah mulai puasa. Pas puasa gue manfaatin waktu untuk berdoa semoga gue lulus ptn dan hubungan ini akan baik baik aja..

Turns out gue diputusin

 Dan gue juga ga masuk ptn

 Kebayang nggak pedihnya kayak gimana, gue inget banget gue diputusin sekitar h-bbrp hari pengumuman ptn. Saat itu,dia bener-bener mutusin gue. Pokoknya saat itu, gue nangis sekitar 3 hari gara-gara diputusin. Gue selalu bolak balik ke kamar mandi buat cuci muka. Gue menenggelamkan wajah gue ke bak mandi, nangis di dalem bak mandi, biar orang rumah nggak denger gue sesegukan nangis gara-gara cowok. Ternyata, my mom was aware of my condition but she decided not to ask me.

Keesokan harinya, gue berusaha tabah menjalani hari-hari. Gue mencoba berpikir positif. Gue mencari-cari universitas mana aja yang masih membuka jalur masuk. Gue tanya ke beberapa temen sma gue tentang tujuan mereka setelah gagal di sbm. Alhamdulilah gue punya teman yang testnya bakal bareng sama gue. Fyi, teman gue ini highschool crush gue pas sma, gue udah suka sama dia dari kelas 2 sma. I was like daang I can’t imagine if I’m gonna be in same uni with him. Emang deh darah-darah hoe ini sudah mengakar di tubuhku.

Lo pikir dengan gue ngomong itu,gue bisa move on dari mantan gue? Ofc nah.

After test universitas itu, gue sebenarnya lolos lho dan temen gue ini juga lolos. However, bapak gue sangat tidak setuju kalau gue masuk kesitu. Padahal gue udah ancer-ancer, gue pikir lumayan lah gue kuliah jauh di luar kota, biar gue lupa sama mantan gue, syukur syukur bisa deket lagi sama highschool crush gue, kali aja bisa jadian, dan u mantan gonna regret for putusin gue ( pemikiran yang sangat cringy ).

Yaudahlah karena ngga boleh kuliah di luar kota, gue memutuskan untuk kuliah swasta di kota sendiri aja. Kata bapak gue kuliah aja dulu di swasta, coba 1 tahun kali betah, ya kalau ga betah tinggal test lagi. Gue kuliah di salah satu univ di Jakarta bagian barat and actually I was really having good time eventually hahaha.

Ditengah-tengah gue mulai menikmati kehidupan kampus gue di Jakarta, tiba tiba high school crush gue jadi rada aware sama eksistensi gue, mungkin karena kita udah sama-sama pisah ya. Prior ini,gue sempet bilang ke highschool crush gue kalau I liked him, hahaha ( untuk cerita lebih lanjutnya,akan di elaborate di Antologi  selanjutnya J )

Tapi-tapi bukan itu aja yang penting

 

My ex came again for no reason

 

To be honest, saat itu gue udah mulai move on, gue sudah bisa hangout dengan teman-teman baru, memiliki kehidupan yang cukup mengasyikan, ditambah lagi highschool crush gue sering chat-chat gue saat itu. Dan bodohnya, gue nerima dia dengan tangan terbuka.

I wonder if I declined him, there’d be no stories aftermath

Dengan bodohnya, gue masih bisa menanggapi dia dengan tangan terbuka. Gue masih peduli. Gue inget banget, saat dia chat gue lagi untuk pertama kali setelah aftermath itu, gue masih deg-deg an. Gue merasakan darah mengalir deras ke otak gue, kepala gue langsung anget nyut-nyutan. Rasanya ingin meledak karena dia datang lagi.

I still miss him anyway

gue udah telfonan lagi sama dia, dia sharing tentang kuliahnya. Hal yang lebih mengejutkannya lagi, dia kuliah satu kota sama gue.

Let me rewind. He’ll be in same town like me

 For four years straight

 Couldn’t be any worse,right?

 Saat itu gue benar-benar merasa tersetrum listrik. Gue bertanya-tanya, apa ini yang disebut jodoh nggak kemana? Gue mengira dia akan kuliah di kota lain or whatever lah, intinya jangan deket deket sama gue lagi.

Lo pasti akan menerka-nerka kan kalau mantan ga kemana mana, tandanya jodoh ga kemana? Iya itu hanya berlaku bagi orang yang masih sayang sama mantannya.

 Tapi hal tersebut ga berlangsung lama, setelah telpon-telponan itu, keesokan harinya dia nggak hubungin gue lagi. Gue mau marah, tapi hak gue buat marah apa? Toh gue bukan pacarnya lagi kan? Yaudahlah gue juga bertujuan untuk temenan baik aja. Meski dia udah menyayat hati gue, very deep.. deep down.. lucu aja,gue udah nangis 3 hari dan gue dengan mudahnya memaafkan dan menerima kembali.

Such a fool, but mama told me not to revenge. That’s why.

 Pokoknya hal tersebut repetive banget, dia kadang chat gue besoknya ilang, selalu begitu. I was wondering kenapa kok dia masih mau balik sama gue lagi. Saat gue nanya iseng-iseng ke dia apa dia udah nemu pengganti gue, dia dengan enaknya bilang

Nggak. Gue mau focus kuliah dulu

 Gimana gak makin baper coba, kesempatan balik lagi itu ada, tapi kita berdua sama-sama canggung dan gengsi untuk bertanya apa masih ada kesempatan buat balik lagi. Apa masih ada kesempatan buat memperbaiki satu sama lain, supaya bisa diterima lagi.

We knew we never had balls for that.

 Akhirnya selama itu gue hanya dihantui rasa penasaran, mengapa orang ini melakukan hal yang bodoh berulang kali. Dia mutusin gue, dia yang selalu kembali lagi. Saat gue sudah mencoba melangkah jauh, dialah yang selalu menghadang perjalanan gue. Dia juga selalu bertanya ke gue apa gue udah menemukan pengganti. Ya orang kayak gue ya kali langsung nemuin pengganti sekilat itu. Highschool crush is nothing comparting to this. I must admit. Pokoknya ditengah-tengah masa lajang itu, gue masih merasa dilindungi meski tidak transparan.

Felt like I really never left home, yes?

Saking repetifnya hal ini, kita juga nggak luput dari berantem. Gue masih suka sakit hati kalau dia ngacangin chat gue, rasa-rasa itu masih ada. Gue udah block unblock, friend unfriend lagi over and over. Gue merasa ga bisa bener-bener ninggalin, meski gue udah berusaha menghilang seperti itu,in the end of the day gue akan mencari kembali.

Dan dia selalu membuka tangannya untuk gue,meski tingkah gue juga seperti itu

 Gue juga selalu membuka tangan untuk dia yang berulang kali melakukan kesalahannya yang paling gue benci.

 Pokoknya hal itu terus berulang, sampai gue mencoba peruntungan ujian masuk ptn lagi. Gue sempat berharap gue dapat di luar kota, supaya gue bisa jauh-jauh dari dia, supaya gue benar-benar melupakan dia seutuhnya.

Turns out, I became his neighborhood

 My new uni is next to his. Exactly. Only warungs are our border.

 

 

How could it be possible?

 

TBC-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s